Sudah Tak Pakai Minyak Tanah Lagi, Tuh

Bagi warga di Desa Haurngombong, Kecamatan Pamulihan konversi minyak tanah ke gas bukan barang baru. Ketika warga di desa lain saat ini sedang sibuk menerima paket kompor gals elpiji dengan tabung gas 3 kg karena minyak tanah subsidi akan ditarik. Mereka sibuk dengan pekerjaan hariannya.

WARGA Haurngombong sepertinya santai saja. Sebab sudah sejak tiga tahun lalu warga disana melakukan konversi minyak tanah sampai listrik juga tak mengandalkan monopoli dari PLN.

Desa Haurngombong yang merupakan sentra penernakan sapi sudah menobatkan diri menjadi Desa Mandiri Energi hampir dua tahun ini sudah terbiasa menggunakan gas alami atau bio gas yang didapat dari kotoran sapi. Dari gas inilah, kebutuhan bahan bakar untuk memasak terpenuhi.

Tak hanya itu, energi listrik pun didapatnya dari kotoran ini. Dengan begitu, hampir tiga tahun sudah tak pernah lagi membeli minyak tanah. Berapa pun harganya, tak peduli lagi. Sedangkan rekening listriknya? Dipastikan akan hemat. Karena hanya beberapa jam saja mereka mengonsumsi listrik PLN. Selebihnya, seluruh penggunaan listrik menggunakan bahan bakar bio gas yang digerakkan oleh mesin genset.

Ketua Kelompok Tani Harapan Sawargi Komar Purnama (42) yang hingga kini eksis mengembangkan bio gas mengatakan warga saat ini sudah merasakan manfaat bio gas untuk memasak dan membangkitkan listrik di rumah. Oleh karenanya, gas elpiji yang dibagikan gratis tidak begitu dinantikan.

Menurut Komar, memang tidak semua warga pengguna bio gas sama sekali tidak menggunakan minyak tanah. Dari 160 KK pengguna bio gas di Haurngombong sekitar 25 persen masih menggunakan minyak tanah sebagai BBM cadangan. “Nah mereka itulah yang masih sedikit mengharapkan tabung dan kompor gas elpiji gratis,” kata Komar.

Meski demikian, semua warga non pengguna gal elpiji didata. Hal ini dibenarkan Kepala Desa Haurngombong Adang SP. Menurut Adang, warga yang menggunakan bio gas juga didata. Padahal, ketentuan pendataan adalah penduduk setempat yang dibuktikan dengan KTP dan pengguna minyak tanah.

“Kami melakukan pendataan juga karena khawatir terjadi kecemburuan,” kata Adang yang juga mengetahui jika warga pengguna bio gas tidak terlalu mengharapkan gas elpiji.

Cuma, lanjut Adang, karena gas ini diberikan secara cuma-cuma, ya tetap saja mereka mau. ”Tapi mereka akan mendahulukan warga yang benar-benar membutuhkan seperti pemilik industri rumah tangga,” imbuhnya.

Senada dengan Adang, Komar dan anggotanya malah akan menyumbangkan gas elpiji gratis itu ke orang yang lebih membutuhkan. “Kami sudah berencana akan menyumbangkan gas elpiji tersebut atau untuk persediaan jika saja nanti ada warga yang tidak kebagian gas elpiji karena kesalahan administrasi padahal dia berhak,” terangnya.

Warga Haurngombong memang dikenal sebagai desa pionir bio gas di Sumedang bahkan Jawa Barat. Saat masyarakat lain panik akibat kelangkaan minyak tanah, warga Haurngombong tenang-tenang saja karena memang sehari-hari mereka memasak menggunakan bio gas. Bahan bakar alternatif kini terus berkembang di Haurngombong.

Hal ini berkat upaya dari tiga kelompok peternak besar yang tetap berusaha eksis di Haurngombong. Masing-masing Kelompok Peternak Harapan Sawargi, Kelompok Wargi Saluyu, dan Kelompok Harapan Jaya. “ Berkat perjuangan kelompok peternak ini, kini sudah ada 160 KK yang mengunakan bio gas sebagai bahan bakar dari total 1486 KK di Haurngombong. Pengguna bio gas mengalami kemajuan sangat pesat setiap tahun,” ujar Kepala Desa Haurngombong Adang SP.

Menurut Ketua Kelompok Peternak Harapan Sawargi Komar Purnama,42, saat ini sudah ada 40 instalasi bio gas di Haurngombong yang aktif dipakai. Satu instalasi bisa memberikan manfaat untuk 4 KK. Saat ini kelompok peternak sedang membangun lagi 210 instalasi tambahan. Perkembangan pesat ini terjadi sejak dua tahun.

“Dulu warga menolak bio gas karena kotoran sapi menimbulkan bau. Tapi sekarang setelah tahu manfaatnya, warga berbondong-bondong mencari kotoran sapi,” ujarnya.

Vera Suciati

============================

Jauh Lebih Hemat

Jika alasan pindah ke gas elpiji dari minyak tanah karena jauh lebih murah. Maka warga di Haurngombong sudah jauh lebih lama merasakan murahnya pindah dari minyak tanah.

APALAGI bio gas tidak usah dibeli lagi karena memanfaatkan kotoran sapi. Tidak ada rupiah yang harus keluar lagi.

Setelah dicoba-coba menghitungnya, bio gas ternyata lebih murah dibandingkan dengan gas elpiji 3 Kg. Gas elpji 3 Kg dari Pertamina dijual di warung Rp 15 ribu dan bisa tahan selama delapan hari jika memasak normal. Berarti dalam sebulan seseorang harus mengeluarkan biaya Rp 60 ribu atau Rp 720 ribu per tahun.

Sementara bio gas hanya memerlukan biaya Rp 1 juta untuk jangka waktu lima tahun. Lima tahun merupakan umur maksimal sebuah instalasi bio gas dari mulai tabung sampai kompor. “Dan yang paling penting kita tidak perlu membeli kotoran sapi. Jadi bio gas lebih murah dari gas elpiji 3 Kg,” kata Komar.

Jika dibandingkan dengan pemakaian minyak tanah, bio gas malah lebih murah lagi. Jika memakai minyak tanah, seseorang harus mengeluarkan uang Rp 7 ribu per hari dengan asumsi memakai 2 liter. Dalam sebulan berarti menghabiskan Rp 210 ribu atau Rp 2,5 juta per tahun. Dari 160 KK pemakai bio gas di Haurngombong, berarti uang yang bisa dihemat Rp 408,8 juta per tahun. Jika 210 instalasi bio gas sudah terpasang, maka penghematan mencapai 210 intalasi x 4 KK x 365 hari x Rp 7 ribu sama dengan Rp 2,1 miliar lebih. Ini berarti dengan Rp 210 juta Desa Haurngombong bisa meringankan beban negara hingga Rp 2,1 miliar lebih.

Jadi dengan hitung-hitungan seperti itu, bio gas tetap paling murah. Menurut Komar yang tidak menampik jika ada anggotanya masih ingin gas elpiji, sebenarnya kami tidak perlu konversi segala, toh dia sudah menggunakan gas, malah gasnya lebih alami lagi.

“Jadi jika pemerintah berniat baik mau menolong, lebih baik menyumbang untuk pengembangan bio gas, agar bisa digunakan oleh lebih banyak orang,” kata Komar tegas dan mantap.

Vera Suciati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: