Menyambut Bencana Dengan Keterbatasan

Deraan bencana banjir sampai longsor mulai menyapa manusia ketika memasuki musim hujan ini. Begitu juga bencana banjir dan longsor itu menyergap Sumedang karena memiliki potensi. Dari struktur alamnya Sumedang memang rawan bencana alam.

BANJIR menjadi bencana langganan ketika hujan turun di Cimanggung dan Jatinangor serta di Ujungjaya dan Tomo. Di Desa Cilengar, Kecamatan Tomo yang berpotensi banjir akibat luapan Sungai Cipeles, banjir di luapan Sungai Cipelang di Ujungjaya, dan banjir di Cisurat, Wado. Bencana lainnya yaitu longsor juga mengancam beberapa tempat misalnya di Rancakalong, Cadaspangeran, dan Cibugel.

Ketua Harian Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana (Satlak PB) yang juga Sekretaris Daerah, Atje Arifin Abdullah mengatakan beberapa daerah di Sumedang yang harus diwaspadai. Semua camat yang memimpin di wilayah rawan bencana diharapkan jangan meninggalkan wilayah dan melaporkan situasi terakhir wilayahnya dan antisipasi apa yang harus disiapkan.

Sekda sangat mewanti-wanti kepada sejumlah pihak terkait untuk mengoptimalkan tugasnya, salah satunya dengan siap siaga jika ada bencana datang. “Dinsos sudah siap dengan persediaan makanan dan kebutuhan lainnya. Dinas PU dengan alat-alat beratnya dan Dinkes untuk penanggulangan medisnya. Termasuk BKB yang siap siaga meluncurkan tim SAR untuk membantu pencarian dan penyelamatan korban bencana,” kata Atje.

Sayangnya, untuk penanggulangan bencana kali ini anggaran pemkab hanya mengucurkan dana Rp 1 miliar di pos bencana alam perubahan APBD. Sebelumnya dana tersedia Rp 2 miliar. Dana bencana alam sudah terserap per 31 Oktober sebanyak Rp 703 juta untuk menanggulangi sebanyak 150 kejadian bencana dari 7 jenis bencana yaitu longsor, tanah retak, angin kencang, banjir, petir, kebakaran, dan kecelakaan.

“Dana itu akan digunakan untuk menanggulangi bencana pada saat kejadian saja, sehingga diperkirakan akan mencukupi, sedangkan untuk pemulihannya akan dianggarkan di tahun depan” kata Atje.

Dengan dana minim, sedikit banyak mempengaruhi kinerja anggota satlak. Dalam rakor, sejumlah anggota mengungkapkan merasa cemas jika sewaktu-waktu ada panggilan untuk menanggulangi bencana karena tidak adanya dana yang siap dikucurkan untuk membiayai sejumlah tindakan operasional penyelamatan bencana.

Seperti dikemukakan koordinator Satlak yang dipegang oleh Bidang Perlindungan Masyarakat (Linmas) Badan Kesatuan Bangsa (BKB). Plt Kabid Linmas Ading mengatakan dana operasional penanggulangan bencana sangat minim, sehingga tindakan penanggulangan bencana seringkali sedikit terlambat karena masih harus menguruskan dana operasional.

“Ketika mengintruksikan tim teknis penanggulangan bencana seperti tim SAR, kadang kami harus mencari dana untuk bahan bakar kendaraan pengangkut SAR dan alat penyelamatan,” kata Ading.

Begitu pula kondisi yang terjadi di Dinas Pekerjaan Umum ketika akan menurunkan alat berat. Tidak adanya biaya operasional penanggulangan bencana kadang menghambat pekerjaan. “Kami harus berunding lagi untuk menggerakkan tim penanggulangan bencana sebelum menurunkan alat berat, meski akhirnya kami tetap bergerak karena ini menyangkut tugas darurat menyelamatkan bencana” ujar Kepala Sub Dinas Pengairan, Sudjatmoko.

Menanggapi keluhan-keluhan tersebut, Atje menegaskan akan menegaskan koordinasi diantara anggota tim satlak agar dapat dengan mudah mengakses dana tersebut, sesuai dengan kebutuhan.

“Sebenarnya SKPD mendapatkan dana PB yang langsung dikucurkan berdasarkan rencana anggara satuan kerja setiap SKPD di awal masa anggaran, namun dana ini bisa saja salah penanganan sehingga biaya operasional pengiriman bantuan tidak teranggarkan,” kata Atje.

Vera Suciati

Satu Tanggapan

  1. Bencana datang pada dasarnya adalah ulah manusiam penebangan hutan yang berlebihan dan tidak terkontrol menjadi salah satu penyebab bencana tersebut terjadi. Pada tahun 1958-1961 saya sering dibawa turney ke daerah oleh bapak saya Omo Darmawiredja. Pasa saat itu daerah Ujung Jaya dan Tomo masih asri dan merupakan daerah penghasil buahdan hasil pertanian lainnya. Banjir besar tersebut tidak menimbulkan bencana seperti sekarang. Karena itu sebaiknya pemerintah bekerjasama dengan masyarakat menggalakkan kembali penghijauan hutan dan jangan biarkan orang lain merusak daerah kita. Sumbangan 1 pohon per keluarga akan menyelamatkan kita dimasa yang akan datang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: