Menunggu Bencana Datang

Tamu ini datang lebih awal. Biasanya bertandang ketika sudah memasuki tahun baru. Namun tamu ini datang saat akhir tahun ketika intensitas curah hujan belum begitu tinggi. Di kawasan ini bencana memang ditunggu.

YA, menutup tahun 2008, dua kecamatan terkena bencana alam banjir langganan yang cukup mendatangkan penderitaan bagi para korbannya. Dua kecamatan yang kebetulan terletak di perbatasan Sumedang itu adalah Kecamatan Ujungjaya dan Cimanggung.

Sebenarnya, banjir di dua wilayah ini terjadi hampir tiap tahun di musim hujan dengan alasan atau penyebab yang hampir sama. Debit air hujan meningkat tapi sungai tak mampu menampungnya begitu tanah darat tak bisa lagi menyerap air.

Banjir di Cimanggung terjadi lebih dulu dengan ketinggian rata-rata satu setengah meter yang merendam empat desa yaitu Desa Cihanjuang, Desa Sukadana, Desa Sindangpakuon, dan Desa Mangunarga pada akhir November. Diawali hujan deras yang terjadi sekitar lima jam sejak siang hari, sorenya, wilayah yang padat oleh bangunan ini langsung terendam banjir.

Jika dilihat dari posisi wilayahnya, memang sedikit tak beruntung. Cimanggung merupakan wilayah berposisi rendah dibanding dengan Jatinangor, Tanjungsari, dan Sukasari yang di arah utara tiga wilayah ini terdapat mata air berdebit tinggi, apalagi jika musim hujan. Alhasil, kecamatan ini seolah-olah menjadi kawasan penadah air dari Jatinangor yang juga sama-sama merupakan wilayah padat bangunan.

Kepala Subdinas Pengairan Dinas Pekerjaan Umum, Sudjatmoko, kondisi tata kota yang salah bisa menjadi pemicu bencana banjir. “Wilayah yang sudah banyak tertutup bangunan tak mempunyai lahan peresap air hujan yang baik, sehingga jika air ini tidak terus mengalir hingga ke lokasi terendah maka air akan menggenang,” terang Sudjatmoko dalam rapat koordinasi Satlak Penanggulangan Bencana di Kantor Pemkab Sumedang.

Penataan tata kota rupanya tak juga menjadi suatu solusi yang segera dikerjakan. Sehingga tahun ke tahun bencana banjir terus terjadi. Jatinangor tak aneh lagi, setiap hujan berintensitas tinggi, gorong-gorong di sepanjang jalan raya meluap hingga ke jalan. Lalu lintas kian bertambah macet. Sisanya, sampah bertebaran dimana-mana dan membuat kotor wilayah yang diisukan akan menjadi perkotaan ini.

Syukurlah, banjir ini dalam dua hari sudah dapat surut, sehingga sebagian korban banjir dapat segera beraktivitas sehari-hari lagi. Akan tetapi keberuntungan tak belangsung lama, karena tak sampai dua pekan, Cimanggung banjir lagi.

Kali ini banjir tak juga surut dalam tiga hari sehingga berbagai kegiatan warganya terhenti. Parahnya, anak-anak sekolah korban banjir tak dapat sekolah karena sekolahnya kebanjiran atau bagi yang bersekolah di luar kawasan banjir, mereka tak dapat melewati banjir. Belum lagi seragam dan buku-buku pelajaran habis terhanyutkan banjir.

Ratna (45) warga Dusun Lakbok, Desa Cihanjuang. Ia mengaku dua anaknya yang bersekolah di SMP dan SLTA tidak bisa sekolah sejak banjir melanda mereka.

“Dua anak saya tidak bisa sekolah karena banjir,” ujar Ratna.

Namun, beberapa murid yang memilih tetap bersekolah. Mereka pergi ke sekolah dengan cara berjalan kaki di tengah air bah yang kotor. Seragam sekolah mereka jinjing terlebih dahulu agar tidak kotor. “Tadi dari rumah pakai baju bebas dulu, baru setelah melewati banjir seragam saya pakai dengan menumpang di rumah tetangga yang tidak kebanjiran,” kata Eli, murid kelas I SMP Yasta Cimanggung.

Meski air merendam desa, tidak ada perahu karet dari tim SAR yang siaga di lokasi banjir. Padahal warga sudah meminta untuk digunakan mengantar anak-anak ke sekolah dan para lansia.

Tak hanya sekolah yang terganggu, pasokan bantuan pun telat mereka rasakan, Bantuan hanya datang pada banjir pertama dengan dibagikan empat bungkus mie instan dan dua liter beras. Sedangkan banjir kedua kalinya, warga sama sekali tak dapat bantuan. Mereka makan seadanya karena dapur termasuk perabotan memasak sudah terendam, rusak, kotor, dan sebagian hilang. Beberapa ketua RW berinisiatif memasak makanan untuk warga di lahan kering karena di hari kedua bencana, warga sudah kelaparan.

Setali tiga uang. Banjir di Ujungjaya karena meluapnya Sungai Cipelang oleh air hujan dan kiriman air dari hulu Cipelang yang ada di Conggeang. Sungai Cipelang ini anak Sungai Cimanuk. Air dari Cipelang tak bisa mengalir bebsa ke Cimanuk yang juga kembung menerima air dari hulunya. Alhasil air itu kembali legi ke Cipelang dan embuat tanggul penahan di perkampungan jebol.

Camat Ujungjaya, Denny Tanrus mengatakan banjir merendam lima desa yaitu Desa Ujungjaya, Sakurjaya, Palasari, Sukamulya terjadi setelah wilayah itu diguyur hujan di malam pertama Desember. Lima titik ppenahan tangul jebol.

“Air bah dengan cepat masuk ke pemukiman warga yang berada lebih rendah dari permukaan sungai sehingga warga berlarian keluar rumah sambil menyelamatkan barang berharga,” kata Denny yang kemudian menyuruh warga mengungsi di jalan raya yang berada di tempat lebih tinggi.

Mak Eem (75) korban banjir di RT 01/07 Dusun Nanjungjaya, Desa Ujungjaya menceritakan air bah datang mengepung dari tiga arah dengan tiba-tiba. Air mulai naik sekitar pukul 19.00 malam dua jam setelah kawasan itu diterjang hujan deras dengan tiba-tiba disertai angin kencang.

“Air disertai lumpur pekat datang dari tiga arah dan terus berputar-putar. Air kemudian merendam rumah saya,” ujarnya. Ketinggian air yang menderas pemukiman 1,5 meter. Air luapan dari Cipelang naik dengan cepat dan merendam perabotan rumahnya.

“Air terus berputar-putar. Setengah jam saja air sudah setinggi leher saya. Tembok rumah saya saya jebol karena kuatnya arus,” tambahnya lagi.

Banjir paling parah terjadi di Desa Ujungjaya merendam 161 rumah di dua dusun yakni Nanjungjaya (156 rumah) dan Karamat (5). Ratusan rumah yang terendam banjir ditinggali 185 KK. Sementara di Sakurjaya 6 rumah. Banjir juga merendam 59 hektare sawah di blok Sawah Legok dengan ketinggian air mencapai 2,5 meter.

Di Desa Palasari banjir menghancurkan 180 hektar sawah yang baru berumur dua minggu di empat blok dan merendam enam rumah warga. Di Desa Sukamulya banjir melimpas 65 hektar sawah.

Di kawasan ini bencana memang ditunggu. Sebab kalau hujan mengguyur diatas tiga jam maka banjir menjadi tamu langganan.

Vera Suciati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: