Duh, Enam Balita Terinveksi HIV/AIDS

KOMISI Penanggulangan AIDS (KPA) Sumedang butuh dana besar. Padahal dana yang dimiliki KPS untuk pengobatan dan perawatan sangatlah kecil. Tiada jalan, penggalangan dana harus dilakukan.

HAL itu dilakukan karena jumlah penderita HIV/AIDS yang terdeksi KPA semakin membengkak. Apalagi saat ini ditemukan ada enam anak balita yang terinveksi HIV bahkan satu balita sudah masuk tahap AIDS.

KPA Sumedang telah menemukan enam kasus orang dengan HIV/AIDS (ODHA) pada usia anak-anak, empat orang diantaranya ditemukan di tahun 2008. Seluruh ODHA balita ini tertular dari bapaknya yang seorang pengguna narkoba suntik (penasun) melalui proses kelahiran dari rahim sang ibu. Sementara ODHA dewasa mencapai 76 orang dengan variasi usia mulai dari 19 tahun hingga 45 tahun.

Project Officer KPA Sumedang, Tita Analita, mengatakan penggalangan dana ini dilakukan sebagai upaya KPA untuk mencari dukungan dan bantuan dari pihak lain untuk membiaya sejumlah tindakan perawatan dan penyembuhan bagi ODHA di Sumedang. “Biaya yang kami butuhkan sangat banyak terutama untuk merawat ODHA balita, namun dana KPA Sumedang untuk perawatan dan pengobatan ODHA sangat minim,” kata Tita.

Keperluan biaya untuk ODHA balita terutama untuk memenuhi asupan susu formula dengan kualitas terbaik. ODHA balita tidak boleh menyusui ASI karena ibunya juga ODHA. “Jadi susunya harus dipenuhi oleh susu formula yang angka kebutuhan konsumsinya pasti lebih banyak,” terangnya.

Untuk membeli susu formula yang berkualitas bagus, lanjut Tita, diperlukan biaya yang sangat besar. Tak hanya susu, makanan tambahan lainnya pun harus bergizi tinggi untuk menjaga kondisi tubuhnya agar tetaf fit. Dana yang dibutuhkan untuk keperluan susu saja sekitar Rp 1,65 juta per bulan untuk enam orang balita dengan asumsi harga susu berkualitas. Maka dalam satu tahun, dibutuhkan biaya Rp 19,8 juta.

“Jika mengandalkan dana dari KPA saja jelas kami sangat keteteran,” ujar Tita.

Sementara untuk obatnya, yaitu ARV, memang bisa diperoleh cuma-cuma dari Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Namun karena pasiennya balita yang tidak bisa sembarang mengonsumsi ARV jenis apa saja, maka diperlukan kajian dan pengecekan yang berulang-ulang untuk memastikan jenis ARV yang cocok. “Tindakan inilah yang kadang-kadang membutuhkan biaya tinggi,” ujarnya.

Saat ini untuk membantu ODHA balita, KPA hanya mengandalkan dana seadanya saja. Namun bantuan ini mesti dilakukan terus menerus mengingat keluarga ODHA berasal dari keluarga tak mampu, sementara pengobatan dan perawatan tidak boleh dihentikan.

Selain ODHA balita, KPA juga harus memikirkan biaya perawatan dan pengobatan untuk ODHA lainnya. Program lainnya yaitu upaya penanggulangan dan pencegahan HIV/AIDS yang hingga kini terus berjalan.

Setiap tahunnya. KPA Sumedang mendapatkan dana sebesar Rp 60 juta per tahun dari pemerintah pusat. Sedangkan bantuan APBD Sumedang hanya Rp 25 juta per tahun yang baru diberikan di tahun 2008. “Dana itu jelas tak cukup untuk membiaya seluruh kegiatan KPA Sumedang,” kata Tita.

Idealnya, KPA Sumedang membutuhkan dana Rp 400 juta per tahun. Saat ini KPA sudah mengajukan dana Rp 350 juta ke Pemkab Sumedang untuk di dikucurkan di tahun 2009. “Namun kami hanya berharap-harap cemas saja soal dana itu, mengingat untuk pengajuan saja kami memerlukan upaya keras,” kata Tita.

Pesimis tak dapat sejumlah dana tersebut, itulah sebabnya KPA melakukan penggalangan dana.

Vera Suciati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: