Belum Bisa Tampil Didepan

JATINANGOR seharusnya tampil sebagai etalase Kabupaten Sumedang yang memiliki nilai budaya khas dan kuat. Tidak tampil sebagai wilayah pendidikan yang sarat dengan kasus kekerasan dan kemacetan.

            Itulah yang dikemukakan Lutfi, alumnus Fakultas Komunikasi Unpad, yang kini sudah enam tahun berada di Jatinangor dan merintis karir. Setidaknya, itulah yang sering didengar Lutfi jika dirinya bepergian ke luar kota. Padahal diakui dirinya, Jatinangor mempunyai beragam budaya yang sangat khas dan ternyata sudah terkenal di kancah nasional dan internasonal, seperti gotong domba, kerajinan tangan Cipacing dan pembuatan senapan angin.

            Begitu juga dengan para pelaku budayanya yang merasa bangga dan sudah bekerja keras untuk mempromosikan budayanya, namun hal itu sangatlah sulit untuk bisa dikenang orang lain.

            Yang diingat orang lain adalah Jatinangor dengan kekerasan praja IPDN seperti yang pernah terjadi ada keributan di Jatos bersamaan dengan sedang dilaksanakannya Jatinangor Festival. ”Media tidak akan mengangkat event Jatinangor festivalnya tapi kasus pembunuhannya dan alhasil itulah yang terkenang di benak setiap orang,” kata Lutfi ketika sedang berdiskusi antara pelaku seni dan budaya, para mahasiswa, dan tokoh masyarakat dengan anggota komidi D DPRD asal Jatinangor, Dudi Supardi, di sela-sela masa resesnya.

            Diskusi digelar di Sanggar Motekar, akhir Mei membahas segala permasalahan yang berkaitan dengan peningkatan dan perkembangan seni budaya yang juga tidak terlepas dari kesejahteraan dan hidup layak dari para pelakunya.

            Para pengrajin kayu atau senapan dari Cipacing seringkali berhenti berproduksi karena keterbatasan modal, selain itu mereka juga cukup kesulitan untuk memasarkan produksinya apalagi dengan jumlah produksi yang terbatas.

            Pengrajin dengan jumlah produksi banyak dapat dengan mudah menjual barangnya secara langsung ke pembeli di luar kota dan luar negeri, namun pengrajin yang hanya memproduksi terbatas dikumpulkan di seorang tengkulak, sehingga merugikan pengrajin. Jika dikumpulkan di koperasi, sangat lama sekali untuk dapat terjual.

            Begitu juga dengan gotong domba yang sangat minim pentas, padahal di Jatinangor sendiri, para aktivis seni ini sering manggung atau pentas mandiri di Saung Budaya.

            ”Pentas ini selain untuk mengobati rasa rindu, juga sebagai alat pengingat bagi orang-orang atas keberadaan seni ini,” kata Supriatna, pemilik Sanggar Motekar.

            Jatinangor dengan kekuatan sejarah dan budayanya memang mampu tampil di hadapan umum, seperti kata Lutfi, Jatinangor bisa besar tanpa pendatang.

”Dengan adanya pendatang ke Jatinangor, kita harus mampu berdiri sendiri tanpa bergantung kepada pendatang,” tandas Lutfi yang sangat mengagumi Jatinangor.

            Penduduk Jatinangor rupanya sudah merasa nyaman dengan lahan-lahan usaha yang didirikan untuk kepentingan pendatang. Padahal, tidak hanya itu, dengan kekayaan budaya dan sejarahnya, penduduk Jatinangor bisa kaya, asal mau berusaha keras, kreatif, dan maju pantang mundur.

            Anggota DPRD yang berasal dari daerah pemilihan Jatinangor, Dudi Supardi, mengatakan bahwa wilayah dengan kontribusi pajak terbesar di Sumedang memang seharusnya mampu tampil lebih di muka umum. Tetapi, keberadaan pendatang dan kampus-kampus di Jatinangor bukan berarti suatu hal yang dirugikan.

”Tinggal kita pandai menata diri dan bekerjasama dengan pendatang, Jatinangor akan aman, rapih, bersih, dan nyaman,” kata Dudi.

 

Vera Suciati

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: