Tak Mampu Diperlambat

SEJAK ditandatanganinya komitmen Jawa Barat untuk penanggulangan HIV/AIDS oleh gubernur, bupati/walikota dan Ketua DPRD se-Jawa Barat pada tahun 2004. Namun epidemi HIV/AIDS di Jawa Barat belum mampu diperlambat dan dihambat. Komitmen tersebut juga belum mampu menjawab dan merespon  permasalahan HIV/AIDS baik dari sisi program intervensi maupun keterlibatan dari semua stakeholder  yang ada.

      Hal tersebut terungkap dalam rapat koordinasi Komisi Penanggulan AIDS (KPA) Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Jawa barat, akhir Mei di Hotel Puri Khatulistiwa, Jatinangor, Sumedang.

      Dalam rakor tersebut hadir Ketua KPA Jawa Barat, Nu’man Hakim dan Sekretaris KPA Pusat, Dr. Nafsiah Mboi.

      Menurut Nu’man yang juga wakil gubernur, Jawa barat merupakan salah satu provinsi prioritas penanggulangan HIV/AIDS di tingkat nasional karena di wilayah ini kasus HIV/AIDS yang telah ditemukan sejak tahun 1989 sampai dengan Desember 2007 berjumlah 3.121 kasus. Data itu terdiri atas HIV 1.543 kasus dan Aids 1.578 kasus. Sedangkan perkiraan ODHA (Orang Dengan HIV AIDS) mencapai  21ribu orang atau jumlah orang dengan resiko tinggi (resti) tertular HIV/AIDS. Sebanyak 70 persen dari jumlah tersebut adalah kelompok umur 15-39 tahun atau termasuk usia produktif.

      “Berbagai upaya telah dilakukan baik di pihak pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota dan lembaga swadaya masyarakat, namun masih memprihatinkan karena kita belum berhasil memperlambat dan merubah jalannya epidemi HIV/AIDS di Jawa barat,” kata Nu’man.

      Fakta dari KPA Jabar yang mengerikan adalah resti terjadi pada Wanita Penjaja Seks (WPS) dan pelanggannya yang menurut data KPA Jabar, distribusi WPS terbanyak berada di wilayah Bandung, Depok, Bogor, dan Bekasi. Sementara wilayah Kabupaten Sumedang dan Ciamis menempati posisi kedua setelahnya, dengan jumlah distribusi WPS dan resti-nya berada pada angka 500-1.000 orang.

      Untuk kalangan pengguna narkoba suntik (Penasun) yang beresiko tinggi HIV/AIDS, selain empat kota/kabupaten yang disebut diatas memiliki jumlah terbanyak penasun lebih dari 1.000 orang, Kota dan Kabupaten Tasik adalah wilayah dengan jumlah penasun terbanyak urutan dua. “Jumlah resti paling sedikit baik dari kalangan WPS dan penasun adalah kabupaten Sukabumi,” ujar Nu’man.

      Pada rakor kali ini, Nu’man mengharapkan kepada semua pemerintahan kabupaten dan kota untuk menerapkan tiga isu utama dalam upaya peningkatan kinerja penanggulangan HIV/AIDS, yaitu kejelasan perumusan program penanggulangan HIV/AIDS dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah, harmonisasi perencanaan dan penganggaran yang tepat, dan mekanisme pendanaan  penanggulangan HIV/AIDS.

      “Kita memerlukan analisa situasi epidemi HIV/AIDS di setiap wilayah,” tegas Nu’man yang  menginginkan bahwa mekanisme perencanaan mobilisasi pembiayaan mengacu kepada kebijakan pendanaan pemerintah salah satunya Permendagri No. 20 Tahun 2007 tentang Pedoman Pembentukan KPA dan Pemberdayaan Masyarakat dan Permendagri No. 59 Tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.

      “KPA kabupaten dan kota harus menyusun rencana kerja yang selaras dengan strategi nasional penanggulangan HIV/AIDS sehingga epidemi HIV/AIDS khususnya di Jawa Barat dapat diminimalisir,” tambahnya.

      Sementara dalam strategi kebijakan nasional, kini KPA pusat berupaya untuk menanggulangi HIV/AIDS dengan tujuan adalah mencegah penularan HIV, meningkatkan mutu hidup ODHA, dan mengurangi dampak sosial ekonomi epidemi AIDS.

 

Vera Suciati

2 Tanggapan

  1. ternyata komitmen saja tidak cukup kan….ini lah budaya kita..budaya menunggu,,budaya pasif..di dunia yang materialistik hal2 yang tidak terlihat dia anggap tidak ada…angka saja tidak akan bersuara…

    Aids sudah masuk ke tetangga2, saudara, dan bahkan keluarga kita..di tempat tidur kita…..

    apa pilihan kita?…TERUSKAN SAJA TIDURRRRR.

  2. ternyata komitmen saja tidak cukup kan….ini lah budaya kita..budaya menunggu,,budaya pasif..di dunia yang materialistik hal2 yang tidak terlihat dia anggap tidak ada…angka saja tidak akan bersuara…

    Aids sudah masuk ke tetangga2, saudara, dan bahkan keluarga kita..di tempat tidur kita…..

    apa pilihan kita?…TERUSKAN SAJA TIDURRRRR..sambil TERTAWAAAAAA>….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: