10 Tahun Lalu Itu …

BULAN Mei merupakan bulan penuh sejarah sekaligus menorehkan kenangan duka bagi sebagian besar kalangan mahasiswa di sekolah tinggi manapun. Sepuluh tahun lalu, telah terjadi aksi besar-besaran yang dilakukan mahasiswa menuntut reformasi.      Aksi yang diawali karena penolakan atas hasil pemilu 1997 berbuntut pada tewasnya beberapa mahasiswa. Tragedi ini dikenal dengan tragedi Mei Trisakti dan Semanggi.

          Aksi protes atas ketidakpuasan kinerja pemerintah juga dilakukan rakyat lainnya. Hal ini terjadi di hampir seluruh daerah di pelosok negeri. Hingga di Sumedang pun, peristiwa 1998 yang pada waktu itu negara kita mengalami krisis ekonomi, turut terjadi di kota kecil ini. Perbedaan agama, ras, dan keturunan turut dipermasalahkan. Entah itu menjadi pemicu atau buntut dari semua ketidakpuasan rakyat.

          Sumedang di wilayah kota sempat dicekam ketakutan. Toko-toko milik etnis  Tionghoa menjadi sasaran amuk massa. Pelajar dan para santri terlibat tawuran. Alasan yang kurang jelas menjadikan isu-isu mudah muncul dan membakar amarah massa.

          Selain di kota, Jatinangor juga menjadi suatu kawasan yang mencekam pada sepuluh tahun lalu. Aksi-aksi mahasiswa dilakukan di beberapa titik lokasi di Jatinangor sebelum akhirnya mereka mengirimkan massanya ke Jakarta. Perjuangan reformasi ini dilakukan sebagian besar oleh mahasiswa angkatan 1998 dari Unpad, Unwin, dan Ikopin.

          Untuk mengenang perjuangan mereka, Selasa malam 13 Mei, Aliansi Mahasiswa Pembela Rakyat (Ambalat) yang diantaranya terdiri atas Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), dan Front Demokrat mengadakan acara ”Refleksi 10 Tahun Reformasi, Mengenang Kebangkitan Gerakan Mahasiswa ’98”, di Gerbang Selatan, Kampus Unpad Jatinangor.

          Acara ini menghadirkan para aktivis 98 dari berbagai lembaga, organisasi, dan komunitas mahasiswa baik dalam maupun luar kampus. Mereka membagi pengalaman, cerita, dan rasa aspresiasinya terhadap seluruh perjuangan mahasiswa kala itu dengan berdiskusi bersama di hadapan mahasiswa lainnya.

          Ucok salah satu aktivis GMNI menuturkan bahwa pergerakan mahasiswa tidak serta merta terpusat di Jakarta. Di perkampusan, khususnya di Jatinangor, mahasiswa sering berdemo di wilayah dalam kampus. Setiap harinya, di Jatinangor selalu dipenuhi aksi mahasiswa yang bahkan dilakukan hingga ke jalanan.

          Aktivis lainnya yang juga merupakan alumni Fakultas Sastra, Unpad, Romli Firdaus, menyebutkan bahwa gerbang Unpad yang dulu masih leluasa tanpa pedagang kaki lima menjadi titik lokasi strategis dan utama bagi pergerakan mahasiswa dari wilayah Bandung dan priangan timur.           ”Kelompok-kelompok disinilah yang kemudian menjadi pejuang seterusnya di Jakarta,” ujar Romli.

          Karena sering terlihat pergerakan mahasiswa, Jatinangor dilimpahi aparat keamanan untuk menjaga kericuhan, aksi besar-besaran, dan melindungi warga dari kekhawatiran tindakan aksi keras. Namun alih-alih membuat warga tenang, malah menjadi semakin merasa terkecam.

          Seperti dituturkan Dede  Hermawan (60), warga Desa Hegarmanah yang membenarkan bahwa perjuangan reformasi sepuluh tahu lalu sempat membuat Jatinangor menjadi mencekam. ”Para petugas keamanan, seperti polisi dan tentara banyak terlihat di sudut-sudut lokasi Jatinangor,” kata Dede.

          Selain itu, Dede juga sering menyaksikan para mahasiswa yang terus menerus rapat dan berdiskui di beberapa kos-kosan. ”Suasananya seperti tahun 1960-an dulu lah,” kenang Dede.

          Menjelang akhir tahun 1998, aksi mulai meredam, meski menurut beberapa aktivis 98 yang hadir pada acara tersebut, tuntutan terhadap pemerintah tak juga di turuti. Namun, perjuangan tetap dilanjutkan meski dengan berbagai cara hingga rakyat mendapatka kesejahteraan dan keadilan serta tak terus menerus dibohongi pemerintah.

 

Vera Suciati

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: