Menumpas Unggas Karena Flu Burung

KOMISI B mengunjungi keluarga korban yang meninggal akibat flu burung. Para anggota komisi ini melongok keluarga korban di Kampung Babakan Asem, Desa Ranjeng, Kecamatan Cisitu. “Kami sudah mengunjungi Desa Ranjeng dan datang ke rumah keluarga korban yang meninggal dunia akibat flu burung,” kata Minan Sukarnan, Ketua Komisi B DPRD.

            DPRD turut prihatin setelah mendengar adanya hasil Balai Pelelitian Kesehatan Dinkes Jabar, yang menyatakan pasien positif H5N1. “Memang masih patut diduga, tetapi antisipasi harus tetap dilakukan. Dan kalau memungkinkan depopulasi terhadap unggas di Babakan Asem sepertinya perlu dilakukan,” katanya.

            Dalam pengamatan komisi B, masih melihat adanya unggas peliharaan yang dilepas. Padahal, sesuai dengan anjuran dari Dinas Peternakan dan Perikanan agar semua unggas di lokasi pasien suspect flu burung agar dikarantina.

            Minan berharap, partisipasi masyarakat bisa diwujudkan lewat mengkarantina unggas miliknya masing-masing. Kalaupun harus didepopulasi, diharapkan bisa lahirnya kesadaran masyarakat karena menyangkut keselamatan unggas maupun kesehatan manusia.

            Dinas Peternakan dan Perikanan akhirnya melakukan pemusnahan unggas di Kampung Babakan Asem, Desa Ranjeng, Kecamatan Cisitu, Sabtu 24 Mei. Kepala Desa Ranjeng, Dedi Ronadi menyebutkan warga Babakan Asem sangat meresepon dilakukan pemusnahan unggas itu. “Warga disana sangat merespon dilakukan pemusnahan karena akibat flu burung itu telah menelan korban jiwa manusia serta ratusan ayam mati sehinga mereka sangat khawatir,” kata Dedi.

            Pemusnahan dilakukan menyusul ratusan ayam mati di Kampung Babakan Asem, Ranjeng dan Babakan Bandung kaibat flu burung. Dinas Peternakan yang melakukan rapid tes atas ayam yang mati dan positif mengidap virus H5NI atau flu burung. Bahkan menyusul kematian ayam secara serempak itu, seorang ibu rumah tangga di Babakan Asem meninggal dunia setelah kontak dengan unggas yang terkena flu burung dan hasil sampel darahnya juga positif mengantung flu burung. Ibu tiga anak asal Babakan Asem ini meninggal dunia di RSU awal bulan lalu.

            Pemusnahan unggas dilakukan di Babakan Asem akhir pekan lalu itu sebanyak 360 ekor unggas karena dari ribuan ayam hanya tersisa sebanyak itu. Depopulasi juga seharusnya dilakukan di daerah sekitar yang terkena wabah namun di Kampung Ranjeng dan Babakan Bnadung banyak warga yang menolak ayamnya dimusnahkan walaupun mendapat penggantian. “Banyak warga yang menolak karena kalau dimusnahkan mereka tak punya ayam peliharaan lagi,” kata Dedi.

            Kepala Dinas Peternakan dan Perikatan Ir Ade Guntara menyebutkan pemusnahan unggas dilakukan setelah hasil laboraturium memastikan kalau korban manusia yang meninggal dunia positif terkena virus flu burung. “Jadi setelah mengetahui hasil laboraturium itu kami langsung melakukan pemusnahan atas unggas di Babakan Asen dan juga daerah sekitarnya,” kata Ade.

            Ia menyebutkan, setiap unggas yang dimusnahkan itu mendapat ganti rugi antara Rp 2.500-15.000 per ekor. “Besarnya ganti rugi itu tergantung ukuran unggas yang dimusnahkan,” kata Ade.

            Unggas-ungas itu disembelih kemudian dibakar dalam lubang khusus kemudian dikubur. Ade mengatakan untuk daerah lain seperti Babakan Bandung dan Ranjeng, unggasnya memang belum dimusnahkan. “Unggas di dua kampung lainya itu dipantau terus dan untuk penanganannya, kami akan memberikan vaksinasi dan disinvektan,” tambah Ade. ***

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: