Membentuk Jatidiri

KOPERASI sebagai salah satu bentuk lembaga ekonomi yang ada dalam sistem perekonomian nasional memegang peranan penting dalam mewujudkan kemandirian ekonomi.  Harapan seperti itu tentunya dimiliki juga oleh para pelaku dunia perkoperasian di Sumedang.

            Meski banyak koperasi didirikan di  Sumedang, baik yang sudah berbadan hukum ataupun belum dan terdiri dari berbagai jenis koperasi, namun sayangnya sebagian besar koperasi belum mempunyai jati dirinya sebagai koperasi serta belum terbentuknya kaidah etika bisnis dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Masyarakat harus mengetahui bahwa koperasi di Sumedang harus dapat ternilai dan terukur dengan standar yang berlaku mengenai hal-hal tersebut.

            Upaya tersebut adalah dengan cara mengadakan akreditasi kepada koperasi-koperasi di Kab. Sumedang yang dilakukan oleh Badan Akreditasi Koperasi (Bakop) Jawa Barat bekerjasama dengan Dinas Koperasi dan UKM Kab. Sumedang.

            Dari 530 unit koperasi di Sumedang, 30 unit koperasi diantaranya telah terakreditasi sejak akhir tahun lalu. Koperasi-koperasi tersebut terdiri atas berbagai jenis koperasi yang unggul dalam manajemen pengeleolaan sehingga dapat telah terpilih oleh Dinas Koperasi dan UKM di Sumedang.

            Penilaian akreditasi koperasi didasarkan kepada tiga hal, yaitu pelaksanaan organisasi dan norma-norma koperasi yang khusus berlaku di Indonesia dan internasional, pelaksanaan kaidah etika bisnis yang  secara konsekuen, konsisten dan proporsional serta ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan.

            Hasilnya, terdapat 4 koperasi yang berperingkat dua atau bintang empat yaitu KUD Bina Asih (Rancakalong), KUD Setiamanggung (Cimanggung), KPWS Situraja (Situraja), dan KUD Najungjaya (Cibugel).

            Sementara sisanyanya berhasil mendapatkan peringkat tiga atau bintang tiga, sebut saja Koptan Simpay Tampomas (Cimalaka), KUD Sri Bakti Tani (Sumedang Utara), KUD Bina Karya (Tanjungkerta), dan KUD Sangkanjaya (Darmaraja).

            Hasil akreditasi juga menyebutkan bahwa dari ketigapuluh koperasi yang mengikuti akreditas jika dilihat dari kinerja organisasi dna manajamennya, hanya sebanyak 33 persen atau 10 koperasi saja yang dinyatakan baik, sednagkan 20 koperasi lainnya atau 67 persen dinyatakan cukup.

            Sementara jika dilihat dari kinerja pelayanan kepada anggota, sebanyak 18 koperasi kategori baik, 12 koperasi katagori cukup. Kinerja bisnis, keuangan, dan promosi sebagian besar koperasi dinyakatak cukup.

            Kepala Bidang Koperasi Serba Usaha (KSU) Popon Rosmayanti SSos, MSi mengatakan bahwa hasil akreditasi ini dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat dan investor untuk melakukan kerjasama dengan lembaga. “Pemberian modal dari salah satu perusahaan akan tergantung dari sejauh mana koperasi tersebut dapat berkinerja dengan baik, terutama dari etika bisnisnya,” kata Popon.

            Meski hanya empat koperasi saja yang dinayatakan bintang empat, namun hal tersebut sudah merupakan kemajuan dunia perkoperasian di Sumedang. “Koperasi lainnya yang masih berperingkat bintang tiga harus dikembangkan lagi,” kata Popon yang tidak menutup mata bahwa masih banyak hal yang harus diperbaiki dalam dunia perkoperasian di Sumedang sebagai pemegang peranan penting dalam sistem perekonomian.

 

Vera Suciati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: