Segores Kenangan

Alun-alun SumedangKota Buludru

SAMPAI penghujung tahun 1960-an, pohon asam dan pohon mahoni – dengan ukuran  batangnya rata-rata sebesar drum minyak tanah, berjejer sepanjang jalan protokol. Tidak saja di pusat Kota Sumedang, sampai daerah pinggiran pun kondisinya sama.

      Daunnya rindang, cukup untuk berteduh dalam keadaan darurat, terlebih di musim kemarau. Dan jika memasuki musim penghujan, mengamati Sumedang kota dari atas, akan terilustrasikan seperti seekor ular piton hijau raksasa yang membentang dari arah barat ke timur.

      Bagi pejalan kaki, pohon-pohon itu merupakan pengayom. Udara segar pun setiap saat mengalir. Bahkan, di musim kemarau, daun-daun mahoni yang berjatuhan sepanjang jalan, kemudian disapu angin, menimbulkan suara gemersik yang khas. Dan itulah ciri Kota Sumedang di masa lalu, yang kini tinggal segores kenangan bagi yang pernah mengalaminya.

      Namun, pohon-pohon itu sejak pertengahan tahun 1970-an mulai ditebangi. Sepanjang kota dipasangi trotoar, sebagai alas bagi pejalan kaki. Dan jika satu – dua pohon asam raksasa sebagai sisa peningalan masa lalu, mungkin sekarang hanya terdapat di pinggir Alun-alun Sumedang saja.

      Memang, tak mudah untuk mencari siapa yang bersalah tentang hilangnya pohon asam dan mahoni dari pinggir jalan pos ambisi dari Mas Galak atau Daendels ini. Karena, di satu pihak pohon-pohon itu keberadaanya dibutuhkan sebagai paru-paru kota, sekaligus pemanis suasana. Tetapi di pihak lain, pemerintah pun perlu melebarkan jalan sesuai dengan tuntutan kebutuhan infrastruktur lalulintas.

      Demikian pula, pohon-pohon asam dan mahoni dengan usia mungkin sudah ratusan tahun, menjadi ancaman bagi pengguna jalan, karena sewaktu-waktu bisa roboh akibat rapuh dimakan usia. Terlebih, sejak awal tahun 1970-an, populasi kendaraan di kota ini mulai semarak, ditambah lagi jasa angkutan massal yang beroperasi di dalam kota, yang sekaligus menggeser kendaraan tradisional seperti keretek dan delman, untuk hijrah ke jalan-jalan pinggiran.

      Perkembangan sekitar pusat Sumedang kota, sejak itu tidak saja terjadi pada sektor infrastruktur dan angkutan saja. Bangunan-bangunan beton bertingkat pun mulai bermunculan. Jumlah penduduk kian hari terus bertambah. Emper toko dan trotoar setiap hari terus disesaki pedagang kaki lima, hingga suasana kota terasa sesak dan pengap.

      Sungai Cipeles yang membentang membelah Kota Sumedang, kini semakin kotor dan kusam. Entah berapa meter kubik sampah yang setiap hari dihanyutkan ke sini. Persoalan lainnya, larutan lumpur yang terbawa air dari kikisan lahan kritis sepanjang hulu Sungai Cipeles, tampaknya kini semakin merlengkapi kekotoran kondisi air sungai ini.

      Demikian nasib kota yang dahulu pernah menyandang julukan “Kota Buludru”. Seperti pernah diakui Bupati Sumedang, Don Murdono, untuk mengatasi kesemerawutan kota dari pedagang kaki lima saja, persoalannya tidak sederhana.

Boleh saja bermacam aturan diciptakan dan diterapkaan secara tegas, tetapi persoalan yang menyangkut perut masyarakat pun tidak bisa diabaikan begitu saja. Lalu, bagaimana solusinya jika Sumedang mendambakan “Kota Leutik Camperenik”, ibarat lirik lagu ciptaan Doel Sumbang. ***

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: