Menjajal Sungai Cipeles

RaftingBINGUNG memilih wisata keluarga di Sumedang? Kenapa tidak memilih di Sungai Cipeles yang membelah kota Sumedang. Cobalah memompa adrenalin Anda di Sungai Cipeles. Kenapa tidak?

            Ya, Anda bisa senang dan seru kalau mau berarung jeram di Sungai Cipeles. Sungai yang mengalir melewati perkotaan Sumedang dan berhulu di Cijeruk dan Tanjungsari ini bisa digauli dengan cara berarung jeram atau rafting. Jeram atau arusnya berada pada tingkatan 2-3 dan ada di lima titik, kondisi dimana arusnya sangat cocok untuk dipakai sekedar wisata atau berolahraga.

            Plester, suatu komunitas pegiat alam, secara teratur selalu berarung jeram di sungai ini. Tujuannya bermacam-macam, dari mulai mempererat persaudaraan antar anggota, berwisata, atau dengan tujuan yang lebih pasti lagi yaitu berolahraga dan berlatih.

            Berarung jeram di sungai ini biasanya dilakukan start di wilayah Gending atau sekitar 100 meter dari jembatan Taman Kota menuju arah barat  Namun menurut Ketua Plester, Lukman Hakim, sebenarnya start bisa dilakukan dimana saja, tergantung kenyamanan. “Tapi kalau start dilakukan di titik itu, arusnya tenang dan permukaan sungai flat atau tidak berbatu sehingga cocok untuk dijadikan pemanasan,” kata Lukman.

            Arus tenang tersebut berjarak sekitar 2,5 km hingga arus sungai yang melewati jembatan di wilayah Rancapurut. Mulai titik itu, arus mulai meningkat dengan permukaan sungai yang mulai dipenuhi batu-batu besar.

            Perahu karet untuk berarung jeram biasanya ditumpangi enam penumpang ditambah satu orang skipper atau pengendali arah. Masing-masing penumpang yang sudah dilengkapi dengan pelampung mengarahkan perahu melewati jeram-jeram dan bebatuan dengan kendali dan aba-aba dari skipper.  

            Sungai Cipeles menantang untuk diarungi. Di kala musim hujan, debit air bertambah hingga arus bisa berada di tingkat 3-4. Arusnya relatif tinggi, sehingga beberapa kali perahu menemukan slalom dan pillow. “Pillow adalah benjolan air yang terbentuk karena permukaan bebatuan dekat dengan permukaan air, maka air menaiki bebatuan dan melewati bagian atasnya,” teriak Lukman disela-sela perjalanan yang membawa wartawan Kiprah.

            Karena kondisi sungainya yang berarus rendah, sungai ini memang sangat cocok untuk pemula. Meski pertama kali berarung jeram, arusnya tidak akan terlalu membuat kaget namun cukup asyik untuk dinikmati sebagai tantangan dan petualangan alam. Jadi jangan khawatir, berarung jeram di Sungai Cipeles sangat aman dan seru.

            Rute yang biasa ditempuh Plester adalah sepanjang 15 KM dan menghabiskan waktu selama empat jam. Selama pengarungan, pemandangan sisi sungai cukup menarik. Misalnya terdapat tebing di daerah Rancapurut sampai bendungan. Selain itu, terdapat perkebunan, sawah, dan perumahan penduduk. Namun, jangan merasa kesepian ketika berarung jeram, pasalnya akan banyak orang-orang memancing di sepanjang sungai. Mereka biasanya berjajar atau bergerombol. Kadang-kadang, saking banyaknya pemancing, perahu tersangkut ke tali pancing atau jala ikan yang sengaja ditebar pemancing.

            Jika berpapasan dengan mereka, beramah-ramahlah menyapanya. Mereka dengan baik hati akan mengangkat pancingannya dan memberitahukan kondisi arus selanjutnya.

Kira-kira di pertengahan rute, kami menemukan jembatan besar dan tinggi. Di titik lokasi itu, dibangun bendungan untuk membuat irigasi  Irigasi yang mengalir ke pesawahan di Cikoneng dan Cimuja serta ke daerah Ganeas dan Situraja.

            Permukaan sungai yang menurun dengan tajam, membuat kami harus berhenti dan naik darat. Kami melakukan portaging atau mengangkat perahu di daratan . Disinilah kami beristirahat sambil menikmati pemandangan sengkedan pesawahan yang tinggi. Bisa juga berfoto-foto di atas jembatan dengan latar belakang buih dan jeram sungai yang bergemuruh.

            Setelah merasa cukup mengembalikan tenaga, pengarungan dilanjutkan. Perahu turun dengan hati-hati karena medan turunan yang cukup curam. “Disinilah kita akan mulai merasakan arus yang memuncak,” kata Lukman seraya memberi semangat.

            Arus memang berubah. Kami harus ekstra hati-hati dan lebih banyak lagi mengeluarkan tenaga untuk mendayung maju, dayung mundur, geser kiri, geser kanan, kanan balik dan kiri balik. Semua dayungannya harus dilakukan dengan keras mengingat arus yang lebih keras lagi.

            Sebelum bendungan, sekitar 300 meter, kami menemukan arus yang paling dahsyat dari titik-titik arus lainnya. Plester biasa menamakan lokasi ini adalah arus nike (dibaca: nayki). Namun berkat kekompakan dan kerja keras tim, kami biasa melewatinya dengan aman namun seru.

            Dua  kilometer setelahnya, bentuk sungai berubah nyata. Ada sebuah titik arus yang disebut dengan jeram botol. Di lokasi ini, lebar sungai menyempit hingga berjarak 2 meter. Arus berada pada tingkatan tiga plus. Jika tak bestrategi, perahu bisa saja terjebak di tengah-tengah. Masih untung jika terjebaknya, posisi perahu vertikal atau kepala perahu berada di depan. Namun, bila posisi perahu horizontal atau miring, perahu bisa terlipat, terbalik lalu tenggelam.

            Rupanya, kondisi kedualah yang saat itu menimpa kami. Dengan merubah posisi duduk tim agar perahu menjadi seimbang, maka perahu bisa terepas dari himpitan batu. Beberapa anggota tim malah hanyut beberapa meter, karena terhempas dari perahu yang sednag mencoba untuk kembali seimbang. Sesaat setelah kondisi mulai stabil, anggota tim yang hanyut dapat terselamatkan.

            “Tim lengkap?” begitu skipper mengecek anggota timnya disusul anggota tim yang berhitung mengecek keberadaan teman masing-masing.

            Khawatir, tegang, tapi seru. Namun arus kencang belum berakhir. Ada satu titik lokasi lagi yang menyajikan arus hebat. Di arus ini, semuanya terkendali dengan baik.

Menjelang finish di jembatan Bantarmara yang berbatasan dengan Kecamatan Ganeas, arus tenang dan nyaris tidak ada bebatuan, dengan lebar sungai yang semakin menjauh.

Kami berhenti di bawah jembatan dan portaging ke darat. Jalur sungai ini terus menuju ke arah timur dan bertemu dengan Sungai Cimanuk. Dari tempat finish, masih tersisa  135 km sampai di hilir Sungai Cipeles.

           

Vera Suciati

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: