Membawa Pusaka ke Pusat Kota

DUPA dinyalakan dan disimpan dalam baki yang dibawa oleh dua orang wanita yang merupakan keturunan para pangeran Sumedang. Asapnya terus mengepul dan menebar bau kemenyan. Dupa itu terus diarak di depan bersama pusaka peninggalana raja-raja Sumedanglarang yang menjadi koleksi museum Prabu Geusan Ulun.

      Helaran dilakukan dari depan Gedung Negara dan menyusuri jalan protokol Prabu Geusan Ulun menuju ke arah utara sejauh 500 meter. Kemudian berbalik di depan bioskop Diana yang kini menjadi minimarket. Para prajurit yang mengenakan pakaian perang Sumedanglarang mengawal helaran.

      Pusaka peninggalan kerajaan Sumedanglarang dan para dalem Sumedang diarak keliling kota dan dipertontonkan ke warga masyarakat. Kegiatan helaran pusaka ini merupakan kegiatan yang kedua kalinya.

      Mahkota Binokasih peninggalan Prabu Siliwangi yang diwariskan ke Prabu Geusan Ulun raja terakhir Sumedanglarang dipertontonkan ke warga Sumedang, akhir Maret lalu.

      Selain mahkota milik raja terakhir Padjadjaran itu juga dihelar puluhan senjata pusaka milik raja-raja Sumedanglarang dan leluhur Sumedang.

      Warga di sepanjang jalan melihat puluhan benda pusaka sampai alat perang para prajurit yang diarak. Pedang Ki Mastak peninggalan Prabu Tadjimalela yang merupakan raja Hibarbuana cikal bakal Sumedanglarang juga turut diarak. Selain itu keris Ki Dukun peninggalan raja Sumedanglarang Prabu Gajah Agung diarak bersama keris Panunggal Naga milik Prabu Geusan Ulun.

      Tak ketinggalan keris yang dipakai Pangeran Kornel ketika menghadapi Gubernur Jenderal Daendles saat pembuatan Cadaspangeran juga dipertontokan. “Saya baru melihat keris Nagasasra yang dipakai Pangeran Kornel itu,” kata Rudiana (39) warga asal Pasarean, Kelurahan Kota Kulon, Sumedang Selatan.

      Begitu juga senjata rahasia dan pamungkas Badik Curuk Aul milik senapati Sumedanglarang Mbah Jayaperkosa menjadi tontotan warga. Kereta Nagapaksi yang diratik manusia dan hasil restorasi juga diarak dan ditarik menyusuri jalan.

Mengarak pusaka leluhur Sumedang ini merupakan kali kedua yang digelar Yayasan Pangeran Sumedang (YPS). “Helaran tahun ini dilakukan lebih matang dibanding sebelumnya. Banyak masukan dari warga dan mereka sangat menantikan,” kata Rd Ikik Lukman Soemadi Soerya ketua YPS.

      Sebelum diarak pusaka ini dimandikan pada tanggal 1 Mulud saat peringatan maulid nabi Muhammad SAW. Kereta  Nagapaksi dan Gamelan Sari Oneng serta Goong Parakansalak dicuci  dengan menggunakan air dari tujuh muara sungai dan bunga setaman. Setelah dicuci gamelan ini tidak boleh ditabuh hingga tanggal 11 rabiul awal. ***

 

 

 

Satu Tanggapan

  1. seratan na aralit…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: