Berdaulat di Jim Akhir

dalem-soeria-soemantriSUMEDANG genap 430 tahun pada Jumat 22 April 2008. Angka ini dihitung dari runtuhnya kerajaan Pajajaran setelah adanya serangan laskar gabungan dari kesultanan Banten, Angke, Demak dan Pakungwati.

      Saat itu Sumedanglarang merupakan bagian dari Pajajaran, tapi tak ikut runtuh karena agama Islam sudah masuk dan dianut di Sumedanglarang. Islam masuk ke Sumedanglarang dari arah bagian timur yakni Pakungwati alias Cirebon ketika pemerintahan dipegang Pengeran Kusumahdinata atau dikenal Pangeran Santri (1530-1578).

      Pangeran Kusumahdinata merupakan ahli waris Prabu Linggawastu salah seorang Raja Pajajaran putra dari Nyimas Ratu Ranggawulung dengan Pangeran Pamelekaran yang keturunan Sunan Gunung Jati. Pangeran Kusumahdinata lahir 6 Kresnapaksayastamasa 1427 Caka atau 21 sayafar 911 Hijriah bertepatan dengan tanggal 26 Mei 1505 Masehi.

      Diangkat menjadi raja Sumedang larang pada 13 Kresnapaksa asyiyimasa 1452 Caka bertepatan dengan tanggal 28 Syafar 937 H atau 20 Oktober 1530. Wafat 10 Sukrapaksa Asyiyimasa 1501 Caka atau 10 Syaban 987 H atau 2 oktober 1579. Setahun setelah menyerahkan kekuasaan pada putranya, Pangeran Angkawijaya alias Pangeran Kusumadinata II yang lebih dikenal dengan sebutan Prabu Geusan Ulun.

      Ada tiga sumber yang dijadikan sebagai pegangan dalam menentukan runtuhnya kerajaan Pajajaran, sekaligus mengawali berkembangnya Sumedanglarang.

      Pertama, kita Warugajagat yang disusun oleh Mas Ngabehi Parana pada tahun 1117 H. Meskipun isinya hanya berupa literatur, tetapi sangat membantu dalam usaha mencari tanggal yang tepat kaitannya dengan penentuan hari jadi Sumedang.

      Dalam Warugajagat disebutkan, “… Pajajaran merad kang ing dina Salasa ping 14 wulan syafar tahun Jim akhir”. Kalimat tersebut diartikan Pajajaran hancur pada hari Selasa 14 Syafar tahun Jimakhir.

      Kedua, buku Rucatan Sajarah, susunan Dr R Asikin yang isinya menyebutkan Geusan Ulun jumeneng Nalendra (harita teu kababawa ku sasaha) di Sumedanglarang, sabada burak Pajajaran. Kalimat tersebut memberikan pengertian, Geusan Ulun menjadi raja yang berdaulat penuh sesudah runtuhnya Pajajaran.

      Sedangkan yang menjadi sumber ketiga, sebuah disertasi yang dibuat Prof Dr Husein Djajadiningrat berjudul Critische Beschousing wan Sejarah Banten yang menyelidiki tentang Banten. Didalamnya menyebutkan tentara Islam masuk ke Ibu Kota Pajajaran pada 1579 atau Ahad 1 Muharam tahun Alif.

      Dari ketiga sumber itu, didapat tanggal dan tahun, 14 Syafar 1579 Masehi. Diskusi penggali sejarah untuk menetapkan hari jadi Sumedang pada tahun 1974 yang dihadiri tokoh sejarah antara lain Drs Said Raksakusumah, Drs Amir Sutarga, Drs Atja dan Drs A Gufroni menyimpulkan 14 Syafar tahun Jim akhir bertepatan dengan 1578 Masehi bukan tahun 1579.

      Alasanya, Pajajaran runtuh sebelum adanya serangan gabungan atau tentara Islam dari Banten, melainkan akibat adanya pertentangan ideologi dalam lingkungan keluarga keraton. Pajajaran runtuh pada 14 Syafar tahun jim akhir, sama dengan 22 Aprul 1578.

      Ketika Pajajaran runtuh, pemegang tampuk pemerintahan di Sumedanglarang pangeran Kusumahdinata yang kemudian digantikan  putranya Pangeran Angkawijaya alias Pangeran Kusumahdinata II yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Prabu Geusan Ulun. Pangeran Angkawijaya dilahirkan 3 Sukrapaksasrawamummasa 1480 Caka atau 3 Dzulkaidah 965 H Bertepatan dengan 20 Juli 1558 M.

      Ibunya bernama Nyimas Ratu Dewi Inten Dewata atau dikenal Ratu Putjuk Umum yang makammnya di Pasarean Gede. Geusan  Ulun dinobatkan jadi raja 1578 menggantikan ayahnya dan dikukuhkan 13 Angklapaksa Asyiyimasa 1502 Caka atau 10 dzulkaidah 998 H atau 18 November 1580.

      Penobatan kembali dilakukan hampir seluruh rakyat Pajajaran, setelah kerajaan tersebut runtuh karena serangan tentara Islam yang dipimpin Sultan Maulana Yusuf daribanten. Geusan Ulun sebenarnya gelar yang diberikan rakyat Pajajaran, Geusan artinya tempat, Ulun berarti bernaung atau mengabdi.

      Penobatannya itu ditandai dengan diserahkannya mahkota kebesaran “Binokasih” yang terbuat dari emas bertahtahkan intan berlian pemberian Prabu Siliwangi Raja Pajajaran. Mahkota diserahkan oleh empat Kandagalante atau panglima perang yaitu Mbah Jayaperkosa (Sanghiyang Hawu), Mbah Nanganan (Batara Wiyatiwiradijaya), Mbah Terongpeot (Batara Pancarbuana) dan Mbah Kondanghapa. ***

     

 

 

Satu Tanggapan

  1. diharapkan kurikulum bahasa sunda mengangkat tentang tokoh tokoh kerajaan sumedang larang yang diharapkan generasi muda sumedang lebih mengenal para tokoh2 kerajaan atau silsilah kerajaan sumedang larang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: