Andai Sumedang Menjadi Sehati

M. Zenal Muttaqin(Refleksi Hari Jadi Kabupaten Sumedang ke 430)

 

Oleh : M. Zenal Muttaqin*)

 

 

UNTUK melaksanakan pembangunan jangka panjang sampai tahun 2025, Kabupaten Sumedang  telah memiliki visi baru yang telah disepakati yaitu Sumedang Sejahtera, Agamis dan Demokratis atau disingkat Sumedang SEHATI.

            Visi baru Sumedang ini merupakan perubahan visi yang sangat signifikan dari visi sebelumnya yaitu Sumedang sebagai daerah agrabisnis dan parawisata. Selain mudah di ingat oleh masyarakat umum, Visi SEHATI Sumedang ini juga dalam rangka merumuskan sebuah visi daerah yang lebih terukur dalam waktu tertentu yakni dari tahun 2005 sampai tahun 2025.

            Indikasi-indikasi keberhasilan visi baru Sumedang diharapkan bisa lebih jelas dan tegas, seperti ukuran sejahtera bisa diukur dengan kondisi kehidupan masyarakat Sumedang yang mampu memenuhi kebutuhan dasar pada bidang pendidikan, kesehatan dan bermata pencaharian yang layak.

            Ukuran agamis ditandai dengan suatu kondisi lingkungan dan kehidupan social yang dijiwai dan di inspirasi oleh nilai-nilai keimanan dan ketakwaan (Imtak), dan ukuran demokratis ditandai dengan suatu kondisi lingkungan pemerintah dan bermasyarakat yang dijiwai oleh supremasi dan kesadaran hukum, tata kelola penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan baik, partisipasi masyarakat, serta pewarisan nilai-nilai kejuangan bangsa dan tersedianya kearifan lokal.

 

Makna Lain Sehati

            Sehati memiliki makna yang sangat dalam, terlebih bagi mereka yang sedang dilanda kasmaran. Sehati secara sederhana sering diartikan dengan sejiwa, serasa dan sepenanggungan, silih asih, asah dan silih asuh bisa pula diartikan saling mempercayai dan saling mencintai. Bila teman kita ditakdirkan memakai baju yang sama persis dengan kita maka orang-orang disekeliling kita sering mengatakan mani sahate.

            Secara etimologis, sehati berakar dari kata hati, bisa berarti denotatif bisa pula berarti konotatif. Hati bisa diartikan segumpal darah yang berfungsi mensuport asupan darah ke seluruh tubuh bisa pula diartikan tempatnya perasaan. Sakit hati bisa berarti sakitnya salah satu organ tubuh bisa pula sakitnya perasaan.

            Menurut pandangan para ulama, hati merupakan satu komponen bersama rasio yang akan membentuk akal. Dengan kata lain akal manusia selalu berisi rasio yaitu kemampuan untuk memikirkan segala sesuatu yang ditangkap indra dan hati yang selalu membimbing manusia untuk selalu berbuat benar dan lurus (hanif). Dalam Bahasa Indonesia, dikenal istilah hati nurani, maksudnya hati yang selalu bersifat nur (cahaya) yang menyinari langkah-langkah kehidupan manusia.

            Dengan akal yang berisi rasio dan hati itu, manusia dimuliakan oleh Allah Rabbul ‘Alamin, sehingga manusia memiliki kapasitas intelegensia yang paling tinggi bila dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain. Namun sayang manusia seringkali mengabaikan hati nurani yang cenderung pada kebenaran (hanif) sehingga manusia jatuh derajatnya menempati derajat yang hina bahkan lebih hina dibandingkan dari binatang. Ketika sifat hanif ini diabaikan maka ajaran Islam tentang Al-Akhlak Al-Karimah tinggallah teori saja tanpa aplikasi.

            Dalam sebuah riwayat dari Imam Al-Bukhori, hati manusia diperumpamakan dengan sebidang tanah. Dalam hadis tersebut ada tiga jenis tanah yang sering ditemukan pada diri manusia, yaitu :

            Pertama, tanah naqiyyah yaitu tanah yang bisa mengisap dan menyerap air hujan, sehingga mampu mengeluarkan tumbuhan dan rerumputan yang cukup banyak, dalam bahasa kita tanah naqiyyah ini disebut tanah yang subur. Inilah hati orang yang dalam sebuah hadits lain disebut Khairunnas yanfa’u linnas sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.

            Kedua, tanah ajadib, tanah yang tidak bisa menyerap air dan keras. Bila dikucuri air, maka airnya akan tergenang.Tanah jenis ini walau tidak menyerap air namun karena bisa menampung air, jenis tanah inipun masih memiliki manfaat untuk manusia minimal air yang tertampungnya bisa untuk menyiram tanaman dan pohon-pohonan. Inilah perumpamaan hati manusia yang keras, bagaimanapun hidayah atau ayat–ayat Alquran dibacakan hanya terngiang didua telinganya saja tidak pernah menyentuh hatinya. Bila ia memiliki ilmu, maka ilmunya hanya mampu menerangi kehidupan orang lain bukan untuk dirinya, ceuk kolot baheula mah disebut elmu ajub.

            Ketiga, tanah qi’aanun, yaitu tanah yang sama sekali tidak mampu menyerap air dan tidak bisa menumbuhkan rerumputan, hati yang tidak memberikan manfaat untuk dirinya terlebih bagi orang lain. Hati manusia yang sudah membatu bahkan mungkin membaja. Bila hati sudah seperti ini maka mustahil manusia yang memilikinya bisa berbuat amal sholeh.

            Berbicara tentang hati, dalam hadis masyhur yang lain Rasulullah SAW bersabda bahwa hati adalah sumber kesalehan, bila hatinya selamat maka seluruh amaliahnya menjadi selamat dan menyelamatkan orang lain, bila hatinya sakit maka seluruh amaliahnya menjadi sakit bahkan bisa membuat orang lain sakit dan sengsara.

            Kita berharap, hati yang menjadi visi Sumedang dalam mengarungi perjalanan pembangunannya kedepan mudah-mudahan hati yang mengandung berbagai manfaat, keselamatan dan kesejahteraan kita semua.

 

*) Penulis adalah staff penamas Depag Kantor Kab. Sumedang dan penggiat Pendidik Sebaya di Komunitas 25 Messengers Jawa Barat

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: