Waspada Bencana Alam

BENCANA alam tanah longsor terjadi sporadis di Sumedang. Bahkan akibat gerusan tanah longsor ini membuat beberapa warga terpaksa meninggalkan rumah karena sudah tak aman lagi. Ada juga yang rumahny ahancur tertimbun. Karena terancam rumahnya itu korban bencana ini terpaksa harus membongkar rumah.

            Bukan hanya rumah yang diterjang longsor namun beberapa irigasi juga hancur akibat banjir dan mengakibatkan beberapa areal sawah tak terari. Terjangang bencana longsor dan banjir ini terjadi akibat hujan deras yang terus mengguyur Sumedang.

            Keluarga Parto (58) harus berkemas dari rumahnya di Kampung Cikamuning RT 3 RW 10, Kelurahan Pasanggrahan, Kecamatan Sumedang Selatan. Rumah permanen ukuran 5×7 meter yang dihuni bersama istri dan tiga anaknya itu luluh lantak diterjang longsor.

            Rumah Parto yang ada di pinggir sebuah tebing bukit itu ambruk karena hujan deras yang mengguyur. Karena longsor tidak sekaligus para penghuni rumah itu bisa menyelamatkan diri dari sergapan longsor. Di kampung ini masih ada dua rumah itu terancam dan sudah miring sehingga untuk menghindari hal yang tak diinginkan penghuninya mengungsi dan barang-barang diselamatkan.

            Bencana longsor juga terjadi di Kampung Cimuncang, Desa Baginda, Kecamatan Sumedang Selatan. “Ada 15 rumah yang berada di pinggir tebing bukit yang terancam longsor bahkan beberapa bagian rumah seperti dapur sudah ada yang tertimbun longsoran tanah,” kata Edi Sunardi warga setempat yang juga anggota komisi D DPRD.

            Warga Kampung Balerante, Desa Palabuan, Kecamatan Ujungjaya yang rumahnya berada di pinggir sungai Cimanuk kini cemas. Di kawasan ini telah terjadi longsor dan mengakibatkan sembilan rumah terancam dan terpaksa dikosongkan.

Camat Ujungjaya Deni Tanrus dalam laporan ke bupati menyebutkan rumah yang telah dikosongkan itu sedang dibongkar. “Karena rumahnya terancam, warga akhirnya membongkar rumah bahkan tanah bekas rumah itu kini telah menjadi sungai,” kata Deni.

            Longsor terjadi akibat gerusan air Sungai Cimanuk yang menghantam kawasan pemukiman. Akibat hantaman air Cimanuk yang membesar saat musim hujan ini mengakibatkan tanah longsor. “Sampai sekarang longsor terus terjadi karena hantaman air Cimanuk masuk kuat dan deras sehingga ada longsoran kecil,” kata Deni.

            Sebanyak 34 jiwa yang menghuni sembilan rumah itu kini menumpang di rusmah sanak saudara maupun tetangganya. “Hanya saja msalahnya banyak berang-barang yang tak bisa dimasukan ke rumah karena tak mampu menampung,” kata Camat.

Sehingga, terang dia, banyak warga yang menjadi korban benacana alam ini menjadi sangat cemas karena barang takut hilang dan rusak. “Sudah tak punya rumah, barang yang bisa diselamatkan juga banyak yang tercecer dan tak bisa dimasukan ke tempat yang aman,” katanya.

            Warga setempat menduga bencana tanah longsor itu terjadi akibat terjangan arus air Cimanuk yang deras. “Arus air yang sangat deras ini terjadi karena ada penambangan pasir di hilir sungai di Desa Keboncau dengan cara disedot (ponton),” kata Deni.

            Menurutnya, karena penambangan pasir dengan mesin penyedot itu diduga telah merubah pergerakan air sehingga arus jadi deras dan menerjang kawasan perumahan. “Masyarakat meminta agar penambangan pasir dengan mesin sedot itu dihentikan. Dari hasil pertemuan pihak pengelola penambangan bersedia menghentikan penambangan,” kata Deni. ***

====================================

 

Jalan Terputus Longsor

 

GEMPURAN bencana tanah longsor juga mendera di beberapa ruas jalan. Sehingga akibat longsor itu beberapa ruas jalan sempat tertutup bagi arus lalu lintas.

            Ruas jalan provinsi yang menghubungkan Sumedang-Situraja-Wado-Malangbong-Garut longsor di Kampung Tegalkalong, Kelurahan Kota Kaler, Kecamatan Sumedang Utara. Akibat longsor itu Jalan Sebelas April  yang cukup padat kendaraan ini menggunakan sistem buka tutup.

            Warga setempat memasang penghalang dengan menggunakan drum dan tali plastik serta memberi tanda hahaya tanah longsor. Longsor terjadi persis di jalan yang menurun sebelum jembatan Sungai Cipeles.

Longsor ini menggerus bahu jalan dan trotoar. Longsoran ini sepanjang 15 meter dengan ketinggian 25 meter dari Sungai Cipeles yang mengalir di bawahnya.

            Longsoran ini juga mengancam beberapa rumah di Kampung Tegalkalong dan disebrang jalan yang masuk kampung Tegalsari, Kelurahan Talun. Kemungkinan akan terjadi lagi longsor susulan karena di lokasi longsoran itu terliaht ada bebraap retakan. Apalagi ruas jalan ini dipakai terus sehingga menimbulkan getaran. Saat kendaraan lewat juga terasa ada getaran dan menjatihkan tanah di tebing yang berdiri hampir tegak lurus ini.

            Jalan Sukamantri, Tanjungkerta menuju Jingkang-Surian- Indramayu tertimbun longsor di blok Amis, Desa Kamal, Kecamatan Tanjungmedar. Arus lalu lintas Tanjungkerta-Surian yang juga jalur alternatif Sumedang-Indramayu itu baru lancar setelah hampir enam jam petugas menyingkirkan material.

            Longsor terjadi setelah bukit setinggi 25 meter ambruk dan menimbun jalan sepanjang 30 meter. Saat longsor terjadi pohon mahoni besar juga tumbang. Kondisi tanah di Kecamatan Tanjungmedar sendiri memang rawan bencana alam. Catatan kecamatan dari 7.200 hektare luas kecamatan, 4.000 hektare diantaranya berpotensi bencana. “Tanah di Tanjungmedar ini rawan bencana karena ada pergerakan tanah. Lokasi longsor yang sekarang saja sebelumnya tanahnya amblas,” kata Tono Suhartono Camat Tanjungmedar.

            Longsor juga terjadi di jalan Desa Cipeles, Kecamatan Tomo menuju Cicarimanah, Kecamatan Situraja juga longsor dan memutuskan arus lintas menuju dua desa di dua kecamatan itu. Longsor terjadi di blok Babakan, Desa Cipeles dan berbatasan dengan Desa Cicarimanah, Kecamatan Situraja. Longsoran di jalan perbatasan kedua itu mencapai 100 meter.

========================================

Make foto

 

Madrasah Hancur

 

BANGUNAN sekolah Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Mukmin di Kampung Pondok, Desa Kertamukti, Kecamatan Tanjungmedar ambruk ketika sedang berlangsung kegiatan belajar mengajar. Beruntung ruang kelas yang dipakai kelas 1,2 dan 3 itu sudah tak lagi diisi.

            Pihak sekolah yang dihuni 83 pelajar itu sejak tiga hari sebelumnya memang memindahkan para pelajar itu ke Mesjid Al Sabirin yang tak jauh dari sekolah. Ini dilakukan karena sebelumnya ada atap dan wuwung yang roboh dua hari sebelum malapetaka datang.

            Ternyata kekhawatiran tersebut menjadi kenyataan. Tiga ruang kelas itu ambruk ketika para pelajar dan guru sedang melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM). “Kalau saja, kami tak memindahkan para pelajar dari tiga ruang kelas itu pasti akan ada korban jiwa,” kata Dedeh seorang guru MI

            Ia mengaku MI Al Mukmin di Kampung Pondok, Desa Kertamukti, Kecamatan Tanjungmedar itu memang sudah lama banyak kayunya yang lapuk. “Kondisi ruang sekolah memang kayunya banyak yang lapuk apalagi sekarang sering hujan dan air masuk sehingga memperparah dan kayu semakin lapuk,” katanya lagi.

            Para pelajar kelas 1,2 dan 3 itu terpaksa belajar di mesjid tanpa bangku dan meja. “Ketika sedang belajar di mesjid itu kami mendengar suara ambruk ternyata tiga bangunan kelas yang dikhawatirkan itu runtuh,” kata guru yang lain.

Bahkan, terang dia, ruang kelas 4,5 dan 6 yang berdampingan itu terasa bergoyang. “Bangunan yang rusak itu sekaligus robohnya sehingga genting dan kaca banyak yang hancur tak terselamatkan,” katanya lagi.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: