Pasien atau Kriminal

Kontroversi dan Solusi Penanggulangan HIV/AIDS

Oleh     : M. Zenal Muttaqin *)

 

 

DIBANYAK tempat pendekatan pengurangan dampak buruk narkoba atau Harm Reduction (HR)  sering menuai kontroversi. Bagi sebagian kalangan dipandang sebagai tindakan legitimasi penggunaan narkoba. Pendekatan   HR lebih mengutamakan pencegahan dampak buruk narkoba, bukan pencegahan penggunaan narkobanya.           

            Soal inilah yang menjadi kajian dalam diskusi di ruang Briefing Bupati Sumedang, akhir Januari lalu. Diskusi dilakukan sebagai bagian dari sosialisasi Kebijakan Nasional Peraturan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat RI Nomer 02/PER/MENKO/KESRA/I/2007 atau Permenko.

            Pembahasan Permenko ini menjadi menarik untuk didiskusikan karena salah satu pokok pembahasan dari peraturan ini yaitu membicarakan masalah yang sejak dari dulu terus diperdebatkan oleh berbagai pihak dari mulai keluarnya berbagai fatwa ulama, dilematisnya penegakan hukum oleh Polri. Gamangnya petugas kesehatan serta berbagai tuntutan dan dukungan dari para aktivis HIV/AIDS yang kadang terjadi silang pendapat. PERMENKO ini berisi kebijakan nasional penanggulangan HIV/AIDS melalui pengurangan dampak buruk narkoba (HR).       

            Perwira Polri Jabinson Purba berterus terang, di polisi sebenarnya tidak menyukai pendekatan HR ini. “Namun karena berhubungan dengan hajat hidup orang banyak supaya tidak tertular HIV/AIDS, maka mau tidak mau suka atau tidak, diperlukan langkah-langkah kompromi diantara semua pihak, terutama polisi harus mampu menahan diri,” kata dia.

           Kriminolog Unpad Yasmil Anwar mengatakan bahwa PERMENKO ini lahir selain kebutuhan juga karena tuntutan global. Indonesia sebagai bagian integral dari komunitas dunia harus mampu menerimanya.

            Pasal 1 PERMENKO ini, menyebutkan bahwa kebijakan nasional penanggulangan HIV/AIDS melalui pengurangan dampak buruk dilakukan di seluruh wilayah Indonesia. Dalam Bab I pasal 1 ayat 6, pengurangan dampak buruk bagi pengguna adalah cara praktis dalam pendekatan kesehatan masyarakat yang bertujuan untuk mengurangi akibat negatif pada kesehatan. Yang menjadi sasaran utama adalah para pengguna narkoba suntik (penasun).

            HR ini merupakan langkah intervensi pragmatis yang dilakukan oleh pihak terkait hanya pada seorang penasun. Sehingga pendekatan HR ini tidak bisa dilakukan secara menyeluruh pada seluruh pecandu dan mesti dibatasi penggunaannya secara ketat. Pendekatan HR ini dalam khazanah keilmuan Islam masuk pada katagori pembolehan karena alasan darurat. Bila kedaruratannya telah hilang maka pendekatan HR ini harus ditinggalkan, pendekatan ini bukanlah pendekatan yang bisa dilakukan terus menerus tapi harus mengacu pada satu titik yang disepakati yaitu seorang pecandu berhenti (clean) dan waras dari kecanduan Narkoba

           

Tantangan Implementasi

            Penyalahgunaan narkoba tidak bisa diberantas secara tuntas. Tidak mungkin suatu lingkungan terbebas dari narkoba sama sekali. Kondisi seperti ini disertai dengan meningkatnya kasus HIV/AIDS secara luar biasa, terutama pada penasun dan pasangannya menuntut perhatian untuk melakukan berbagai upaya penanggulangan. Termasuk penanggulangan HIV/AIDS melalui pendekatan HR, meskipun hal ini sampai sekarang masih menuai kontroversi di berbagai lapisan masyarakat dan penegak hukum.

            Kontroveersi terjadi, karena dalam implementasinya HR menggunakan berbagai strategi sebagai berikut. Pertama, penasun didorong untuk berhenti memakai narkoba.  Kedua, jika penasun bersikeras untuk tetap pakai narkoba, maka ia didorong untuk berhenti memakai dengan cara menyuntik.

            Ketiga, jika penasun bersikeras memakai cara menyuntik, maka ia didorong dan dipastikan tidak memakai atau berbagai peralatan suntiknya secara bergantian dengan pengguna lainnya. Keempat, jika tetap terjadi penggunaan bergantian, maka penasun didorong dan dilatih untuk menyucihamakan peralatan suntiknya.

            Kontroversi masih berlanjut karena strategi-strategi lain seperti penyediaan obat pengganti narkoba (subsitusi) dan menyediakan kondom bagi para pecandu dan pasangannya sering menimbulkan pro dan kontra.

            Untuk menghindari kecurigaan itu, dalam implementasi programnya disertai pengawasan dan monitoring yang sangat ketat dari berbagai komponen bangsa.

            Program HR ini mestilah suatu program yang mudah diakses oleh para pecandu secara mudah dan tidak dihantui oleh perasaan tidak aman. Namun begitu setiap pecandu hanya bisa mengakses program ini bila terlebih dahulu melewati layanan konseling oleh seorang konselor yang terlatih atau psikiatri. Seorang konselor yang pada akhirnya dapat menyimpulkan apakah seorang pecandu tepat atau tidak memperoleh segala fasilitas yang disediakan oleh program HR.

            HR merupakan salah satu alternatif solusi penanggulangan HIV/AIDS melalui pendekatan kesehatan masyarakat. Maka nampaknya yang lebih berhak mendapat layanan adalah pecandu yang tidak berkesempatan  dengan berbagai alasannya, seperti tidak mampu secara ekonomi untuk mengikuti berbagai program pemulihan di  panti rehab. Bagi pecandu yang berada dalam panti rehat dianjurkan tidak menggunakannya sebagai pilihan utama program.

            HR ini mestilah dikembalikan pada orientasi pokok yaitu abstinen tidak pakai sama-sekali narkoba, kondisi dimana seorang pecandu mesti diarahkan pada kondisi bersih dari berbagai macam narkoba. Konselor perlu mendorong para pecandu membuat target-target pencapaiannya untuk berapa lama dan untuk jenis terapi apa saja? Sehingga kesan bahwa HR ini program liar tak terkendali tidak terjadi lagi.

            Membedakan pecandu pada katagori kriminal, korban dan pasien juga menjadi penting, supaya HR menjadi tepat sasaran, dan polisi bisa dengan tegas menegakkan hukum.

            Psikiater Dadang Hawari mengatakan, seorang pasien adalah mereka yang mengalami ketergantungan primer, ditandai dengan adanya gangguan kejiwaan berupa kecemasan dan depresi, yang pada umumnya menimpa pada orang dengan kepribadian yang tidak stabil. Biasanya mereka mencoba mengobati diri sendiri tanpa berkonsultasi pada ahli sehingga mengakibatkan terjadinya penyalahgunaan sampai ketergantungan obat. Golongan ini memerlukan terapi kejiwaan serta perawatan bukan hukuman.

            Seorang korban narkoba adalah mereka yang mengalami ketergantungan reaktif, yaitu biasanya menimpa remaja karena dorongan ingin tahu, dorongan lingkungan dimana mereka hidup atau mungkin pula tekanan sebaya. Kelompok ini memerlukan perawatan dan tentu pula program pemulihan atau rehabilitasi bukan hukuman.

            Sedangkan seorang kriminal adalah mereka yang mengalami ketergantungan simtomatis. Bisanya menimpa pada mereka yang memiliki kepribadian antisosial. Memakai narkoba hanya untuk kesenangan semata, hura-hura dan sejenisnya. Biasanya mereka ini tidak hanya memakai narkoba untuk dirinya saja tapi menularkan pada orang lain dengan berbagai cara sehingga orang lain “terjebak” ikut memakai bahkan sampai ketergantungan pula. Inilah mungkin yang bisa dikatagorikan kelompok yang pantas mendapatkan hukuman.

            Kita berharap program HR yang coba diterapkan di Sumedang  bisa lebih efektif dan berdampak positif untuk seluruh masyarakat. Bila dalam pelaksanaannya mengalami penyimpangan, semoga kita diberikan kekuatan untuk memperbaikinya dikemudian hari.

 

*) Staf Penamas Depag Sumedang, pendiri 25 Messengers Jawa Barat, komunitas yang peduli pada Pemulihan Pecandu

Satu Tanggapan

  1. Assallamu Alaikum Wr.wb

    Silahkan Download Gratis Ebook Islam Therapy, Program Komprehensif Internasional Untuk Menanggulangi Masalah Penyalahgunaan Narkoba, HIV/AIDS, dan Gangguan Jiwa berbasis Ajaran Islam Edisi Satu Abad Kebangkitan Nasional di :

    Satu-Abad-Kebangkitan-Nasional

    Mohon Bantuannya untuk menyebarluaskan informasi ini. sekian dan Terima Kasih.

    Wassallam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: